Friday, September 14, 2018

Sintra: Jalan-jalan ke Portugal




Sintra adalah desa yang diklasifikasikan sebagai world heritage oleh UNESCO. Letaknya 1 jam dari Lisbon. Di desa ini terdapat banyak kastil-kastil dan tempat bersejarah, tapi yang menarik di Sintra ini adalah Pena Palace. Awalnya saya biasa aja sama Sintra ini, setelah membaca artikel dengan keyword Lisbon 24 hours atau Must Visit Lisbon,  Pena Palace selalu muncul. Kemudian gw bertanya sama orang-orang yang pernah ke Portugal dan semuanya merekomendasikan untuk mengunjungi Sintra jadilah kami pergi. Biasalah memel anaknya latah.

How to get here?

Transportasi yang kami pilih untuk mencapai Sintra adalah Kereta. Harga tiket 5€ PP/orang. Kita tidak bisa menggunakan kartu 24 jam untuk mencapai Sintra. Tiketnya bisa dibeli di counternya dan jangan lupa divalidasi. Sebenernya bisa pake mesin sih tapi karena kami mau bertanya naiknya mesti dari peron berapa jadinya kami antri di counter. Sintra buka dari jam 10.00-19.00.


Setelah sampai di stasiun kereta Sintra cukup ikuti keramaian karena semua orang pasti mau ke Pena Palace. Kalau ragu sih bisa bertanya ke tourist information. Perlu kalian ketahui kalau Sintra itu luas sekali, karena kami cuma ingin ke Pena Palace, kami cuma beli tiket bus rute 434 seharga 7,5 € /orang. Ada juga pilihan daily tourist tiket untuk semua rute seharga 15 € /orang. Tiketnya bisa dibeli di supir busnya, siapkan uang pas ya. Saya sarankan jangan nekad jalan kaki karena jalanan ke Pena Palace cukup terjal dan dari halte bus kita juga masih jalan kaki 20 menit untuk sampai di Pena Palacenya.


Saya dan suami cuma ambil jalur 434


Menuju Pena Palace

Biaya masuk ke Pena Palace adalah 15€ untuk bagian luar dan dalam kastil. Kalau mau di luarnya saja 7,5 € . Untungnya kami beli yang bagian luarnya saja, karena antrian untuk masuk ke bagian dalam kastil panjang sekali. Setelah membeli tiket kita mesti jalan lagi ke Pena Palace yang letaknya masih keatas.  Kalau kalian yang bawa orang tua dan ga sanggup jalan nanjak ada pilihan shuttle bus dengan harga 3 € /orang.

Antrian Shuttle bus












Setelah mengelilingi Pena Palace, kami sok-sok hiking disekitar Pena Palace mencari spot-spot menarik yang ada di peta yang didapat dari membeli tiket masuk, yah lumayanlah itung-itung nyari keringet.



Pena Palace dari titik tertinggi di Sintra



Bukan Musholla (penting banget ya captionnya)



Kandang Angsa


Tips dari Memel:

1. Pakai sepatu yang nyaman
2. Bawa bekal dan minuman sendiri trust me.. gw nyesel cuma bawa roti..
3. Berangkat dari pagi karena ini destinasi tujuan utama
4. Jangan lupa sarapan sebelum pergi karena kita memerlukan banyak energi untuk mencapai Pena Palace
5. Beli tiket luar saja, karena dalamnya biasa aja dan antriannya masya Allah
6. Bawa obat-obatan pribadi karena asthma gw kambuh pas nanjak 😅
7. Kalau mau pulang ke stastiun naik busnya dari halte sebelumnya di Moorish Castle, karena kalau naiknya dari halte Pena Palace antriannya panjang dan yakinlah tidak akan dapat tempat duduk.


Moorish Castle dari Pena Palace yang konon mirip Tembok Cina

Review:

1. Setelah dihitung-hitung mahal banget cuy.. Mana perjalanannya jauh banget..
2. Cuma ada 1 cafe makanya saya suruh bawa bekel..
3. WC umum bersih dan gratis
4. Kalau mau irit siap-siap menghadapi tanjakkan
5. Setelah gw baca reviewnya bulan agustus adalah waktu yang sangat tidak tepat karena terlalu banyak orang.
6. Cukup Instagramable
7. Panas+penuh buat mama papa yang mau bawa anak, saya sarankan bawa gendongan saja, karena jalanannya berbatu juga, bawa strollernya jadi ga nyaman.

Sekian tulisan saya mengenai Sintra.
Semoga bermanfaat.
Kalau ada yang ingin ditanyakan bisa DM ke IG saya @melzealanda karena saya lebih aktif di IG

Memel out!!

Wednesday, September 12, 2018

Kehidupan di Swedia dari kacamata Memel


Hallo teman-teman, kali ini saya mau berbagi pengalaman tentang hidup di Swedia. Swedia adalah salah satu negara Skandinavia, Skandinavia sendiri terkenal dengan negara yang mahal. Saya kira ini cuma mitos karena 1 Swedish Krona = Rp. 1630-1690, tidak semahal Singapore Dollar pikir saya waktu itu. Sesampainya saya disini barulah terasa semuanya serba mahal dari harga bahan makanan, transportasi, biaya ke dokter semuanya mahal bagi saya. Tapi walaupun mahal, bukan berarti saya tidak senang hidup disini, tidak ada macet, udara bersih, transportasi bagus, lingkungan bersih, kotanya tenang dan nyaman. Terdengar seperti kota impian bukan?

Biaya hidup di Swedia sebenarnya murah saja, apalagi kalau urban mama dan papa bisa masak. Harga sekali makan di restaurant cepat saji paling murah sekitar RP.200.000 an itupun cuma 2 burger 1 kentang dan minum. Walaupun ada paket hemat yang ada dihari-hari tertentu tetap saja buat saya pribadi yang mesti makan 3x sehari kalau makan diluar terus menerus biayanya sangatlah mahal. 
Orang Swedia sendiri ada kegiatan yang namanya FIKA alias ngopi cantik kalau di Indonesia. Sekali fika biasanya menghabiskan Rp.200.000 untuk kue dan minuman. Kalau mau fika setiap hari untuk pasangan suami istri yang hanya mengandalkan uang beasiswa sih lumayan mahal. Jadi untuk berhemat kami jarang ikut fika. Lumayan buat nabung untuk jalan-jalan.




Masak adalah hal remeh yang menyelamatkan keuangan menurut saya. Walaupun harga bahan makanan tidak semurah di Indonesia, makan di rumah lebih banyak menghemat dibandingkan makan di luar. Bahan makanan murah bisa dibeli di pasar lokal. Mendengar pasar pastinya terbayang pasar yang becek dan bau, disini pasarnya bersih sekali dan jangan takut kalau tidak bisa bahasanya. Orang Swedia semuanya bisa Bahasa Inggris kalaupun mau belajar bahasa Swedia sedikit ya angka-angka dalam bahasa Swedia 1-100 gampang kok. Kalau mau belanja di supermarket biasanya mereka ada kupon-kupon atau diskon setiap beberapa bulan. Kalau ada diskon begitu saya langsung borong semua yang bisa saya borong.




Transportasi umum di Swedia cukup bagus, ibu-ibu yang bawa stroller atau yang berkebutuhan khusus yang mesti menggunakan kursi roda bisa naik trasnsportasi umum. Biaya kartu bus di Swedia sini sebulannya sekitar 1 juta rupiah. Kalau pake uang beasiswa sih sebenernya cukup saja. Tapi saya sendiri memilih untuk jalan kaki saja. Selain lebih hemat, lebih sehat pula. Saya dulu pakai kartu bus ini cuma 2 bulan, karena setelah hafal jalan, semuanya bisa dikunjungi dengan jalan kaki. Males jalan kaki? Urban mama dan papa bisa beli sepeda. Di Swedia kalo bersepeda sudah ada jalurnya sendiri, udaranyapun enak sekali. Coba kalau dibandingkan beli sepeda sekali 1000 SEK = Rp. 1.700.000,- Kartu bus per bulan 550 SEK x 1700 x 11 bulan = Rp. 10.285.000,- Saya sih yakin sekali untuk tidak menggunakan kartu bus. Alasannya adalah saya jarang keluar jauh juga jadi sia-sia juga beli kartu bus  bulanan dan semua bisa ditempuh dengan jalan kaki atau bersepeda. Saya tetap punya kartu bus yang saya isi saldo, jadi kalau butuh banget saya tinggal pakai saja. 22.5 SEK = Rp.40.000 sekali jalan.






Yang menyenangkan disini adalah diskon, tiap musim ada diskonnya. Setelah saya lihat, diskon besar besaran ada di bulan Januari dan summer atau sekitar bulan Juli. Di bulan tersebut saya puas berbelanja baju merk ZAR*, CO* H&* karena kalau beruntung, ada hari dimana yang diskon 50% harganya di diskon setengahnya lagi. Saya yang awalnya biasa saja sama merk tersebut jadi gelap mata. hehehe...



Setelah sampai Swedia barulah terasa kalau Indonesia enak sekali kalau kita sedang sakit. Kalau kita sakit hal pertama yang bisa kita lakukan adalah menelpon Vårdcentralen, ini semacam Puskesmas Swedia. Setelah ditanya nomer ID barulah ditanya keluhan kita apa. Kemudian mereka yang memutuskan apakah kita bisa bertemu dokter atau tidak. Kalau kecelakaan atau hal yang darurat sekali bisa menelpon Emergency. Perlu urban mama dan papa ketahui kalau Sabtu-Minggu tidak ada dokter, jadi kalau sakit di hari sabtu atau minggu kalian bisa bertemu perawat yang menjaga. Dan lagi-lagi mereka yang memutuskan kita perlu bertemu dokternya atau cukup Istirahat.

Berbahagialah yang tinggalnya lebih dari 1 tahun, karena urban mama dan papa bisa mengurus personnummer atau semacam NPWP. Setelah dapat personnummer urban papa dan urban mama bisa membuat ID kord atau KTP. Kalau kedua kartu sakti ini sudah dipegang maka urban mama atau papa bisa ikut SFI (Swedish for Foreign) sekolah bahasa Swedia gratis. Atau mencari pekerjaan part-time, disini kerja jadi cleaning service di hotel dibayar 125 SEK per jam (lebih kurang 200.000).  Dan kalau urban mama dan urban papa sakit, kalau punya personummer biayanya jauh lebih murah.

Oh iya, kalau mau membuka rekening bank dan menyewa apartemen urban mama dan papa mesti punya personummer dan ID kord ini. Kalau tidak ada biasanya kita tidak bisa membuka rekening maupun menyewa apartemen. Apartemen di kota Malmo tempat saya tinggal, untuk 2 kamar 1 kamar mandi dan dapur setahu saya sewanya 5500 SEK per bulan (lebih kurang 10 juta). Yang ditengah kota biasanya lebih mahal lagi.

Kalau tidak bisa membuat personnummer seperti saya jangan bersedih hati, kalau ingin belajar bahasa Swedia bisa datang ke Perpustakaan Kota. Tiap bulannya mereka mengadakan kelompok belajar bahasa Swedia gratis. Kalau mau kita bisa kerja jadi relawan, atau kalau di kota besar seperti Stockholm kita bisa mengajar bahasa Indonesia untuk anak-anak keturunan Indonesia di Swedia atau ya bisa jalan-jalan keliling kota, atau piknik sambil membaca buku di taman kalau cuacanya cerah.








Saya beruntung karena cukup banyak orang Indonesia yang tinggal disini, beberapa ada aktif yang mengadakan kegiatan latihan tari untuk mempromosikan budaya Indonesia. Kalau ada festival yang diadakan di kota-kota di Swedia biasanya mereka ikut berpartisipasi. Kalau kangen Indonesia saya tinggal ikutan ngumpul sama ibu-ibu disini.



Sekian cerita saya mengenai kehidupan perantauan di Swedia, semoga menghibur. #halah

Lisbon 24 Jam


Setelah wacana dari awal tahun, rencana untuk mengunjungi temannya Obbie di Lisbon akhirnya terlaksana juga. Awalnya kami sudah pesimis bisa melakukan perjalanan ke selatan mengingat harga tiketnya tidak murah. Kemudian keajaiban terjadi, H-1 minggu kita menemukan tiket murah direct LISBON-CPH dengan harga 800 ribu per orang. Walaupun ini menurut temen-temen gw masih mahal tapi ya sikat aja dulu tiketnya itinerary belakangan.

Penginapan yang kami pilih adalah Airbnb tercinta, karena hotel murah di H-1 minggu tidak pernah berjodoh sama saya. Setelah beres berangkatlah kami ke ujung selatan Eropa. Jalur mudik kami adalah Copenhagen-Paris naik Flixbus 15 jam. Gila? Ya udahla masih muda ya nikmatin aja. Terus menginap 2 malam kemudian lanjut Paris-Lisbon naik Flixbus 25 jam. Yes, you heard me right! 25 hours direct from Paris to Lisbon. Jadi kira-kira rute perjalanan dari Utara ke Selatan begini bentuknya.



Lelah? Pastinya.. Tapi kekuatan kepo itu nyata. Buktinya balik masih baek-baek aja kok kita setelah istirahat total 2 hari. hehehehe...

Public Transport

Enaknya naik bus adalah sampainya langsung di tengah kota. Tinggal beli tiket 24 jam kita sudah bisa keliling kota Lisbon dengan transportasi apapun. Harga tiket 24 jam 6,3 €. Jangan lupa di validasi dan diingat jam berapa tiketnya expired. Kalau bingung mau kemana, buka Google Map aja.


Bagi yang ke Lisbon menggunakan pesawat, ke tengah kota juga gampang kok tinggal naik metro saja. Tiketnya bisa dibeli di mesin atau kalau pengen nanya-nanya ada counter tiketnya kok.




Lisbon

Sebenernya banyak tempat menarik yang bisa kita lihat di Lisbon, tapi karena keburu capek di Sintra jadinya cuma makan-makan deh. Hal yang wajib lo makan disini adalah Pasteis de Belem deket Belem Tower. Antriannya ada 2, antrian take away dan antrian makan di dalam. Kabar gembira untuk yang punya baby, manfaatkan!!! hahahahahhahhaa karena yang bawa baby bisa lebih cepat karena prioritas.


Antrian take away minimal pembelian 6 pcs

Antrian makan ditempat


Tarjo and the famous Pasteis de belem



Setelah mencicipi kue yang rasanya surgawi itu kami diajak piknik di lapangan untuk makan nasi (maklum perut tetap Indonesia) dilanjutkan dengan makan es krim di Santini. Nikmat Allah itu emang benar adanya ya.. es krim doang kok bisa enak.




Sudah selesai? Oh tentu saja belum dong, setelah makan dessert kami ke food court di Lisbon. Bentuknya mengingatkan gw akan Great Hall Market di Budapest. Kalau pagi tempat ini ada pasar buah dan sayurnya. Tujuan kami kesini adalah untuk makan saingannya Pasteis de Belem yaitu Mantegaria. Setelah membandingkan dua kue surgawi ini, pilihan gw Pasteis de Belem tapi suami gw lebih suka Mantegaria ini. Ya sudah, namanya pendapat boleh beda dong.



Bisa beli 1 pcs
Setelah selesai makan makanan wajib yang harus diicip di Lisbon, kami diajak berkeliling kota sama temennya suami. Sebagai orang yang lama tinggal di Malmo gw agak kaget sampai jam 12 malam, beberapa tempat turis masih buka. Walaupun kami tidak berkesempatan naik Tram 28, kami cukup puas naik tram yang masih buka untuk melihat Lisbon dari atas. Tips dari memel, ke Lisbon minimal 3 hari 2 malam lah biar puas. Abis itu lanjut ke Porto yang konon katanya mesti kesana. Yah apa daya, kami bergantung pada tiket murah yang katanya tidak murah itu. Kenapa gw tidak pernah berjodoh dengan tiket murah, hiks...

Jika kalian tahu Nando's dan ayam piri-pirinya, disini ada ayam piri-piri yang wajib kalian coba. Karena waktu itu kami kelaparan, dokumentasi ayam piri-pirinya ga ada 😐





Kalau punya tiket 24 jam naik tram ini gratis

Pemandangan Lisbon dari atas


Catrhedral

Tram di Alfama


Kalau kalian perhatikan jalanan di Lisbon beberapa ada motif-motifnya. Dua orang ini yang pertama punya ide untuk membuat motif-motif dijalanan Lisbon. Kalau gw ga salah nangkep yak..




Keesokan harinya sebelum pulang ke Copenhagen, dengan tenaga seadanya kami pergi ke Praça do Comércio dengan harapan bisa makan santini sebelum pulang, ternyata santininya buka jam 11. Daripada ketinggalan pesawat kami jalan-jalan seadanya kemudian pergi ke bandara.








Tempat-tempat di Lisbon yang wajib dikunjungi dan sebenernya kami lihat sih, tapi bukan dokumentasi namanya kalau tidak ada fotonya. Dan waktu itu kami terlalu lelah untuk foto-foto ala ala jadi saya tuliskan saja, siapa tahu kalian butuh.

1.  Belem Tower : landmarknya Lisbon dan ada Pasteis de Belem di dekat sini.
2.  Padrão dos Descobrimentos : ini cuma kami lihat dari jauh sambil piknik di tamannya.
3. Alfama : cuma sekilas ngeliat sambil naik tram ke atas, melewati Cathedral dll.
4. Santa Justa Lift: lift yang kami tolak untuk kami kunjungi karena mager jalannya. Kata Pak Wari viewnya bagus dari sini
5. 25 de Jibril Bridge : jembatan Golden Gate ala ala di Lisbon yang follow IG story gw pasti liat deh gw cuma liat dari kejauhan. 

Akhir kata, thanks to Bella, Pak Wari dan Aishark doo..doo..doo..doo..doo..doo.. yang telah menemani kami berkeliling dan ngasih makan mulu 😅😅😅😅 Semoga studinya lancar ya Bell dan sampai ketemu lagi... Lisbon menyenangkan banget karena kalian.

Keluarga Pak Anwari terbaik bangsa

Review

1. Panas... Sebagai warga utara kami kepanasan.
2. Kotanya ramai banget, katanya sih aman tapi yang namanya apes ya apes aja. Tetap waspada!!


3. Kotanya gede dan murah dibandingkan Malmo.
4. Transportasi public kebanyakan tidak pake AC atau emang lagi apes aja, semua rute bisa dicari dengan Google Map.
5.  Air keran bisa diminum
6. Jalannya banyak tanjakan. Siap-siap olah raga..
7. Baru kali ini Norwegian Air ga bisa website check-in tapi check-in di bandara aman kok
8. Orangnya ramah-ramah dan lumayan banyak yang bisa bahasa inggris
9. Banyak toko yang masih buka di malam hari.

Tips

1. Pakai sepatu yang nyaman karena jalanan menanjak
2. Nginep disini 3 hari deh biar bisa dinikmati dengan nyaman. Gw kemarin buru-buru banget, banyak spot yang cuma dilihat dari jauh.
3. Ga usah sok-sokan kayak kita naek bus dari Paris ke Lisbon 25 jam. Kalau ada tiket murah langsung serbu.
4. Pakai tabir surya karena panas banget
5. Beli tiket 24 jam demi perjalanan nyaman dan menyenangkan. 

Sekian tulisan saya mengenai Lisbon.
Semoga bermanfaat.
Kalau ada yang ingin ditanyakan bisa DM ke IG saya @melzealanda karena saya lebih aktif di IG

Memel out!!



Hutan Sebagai Salah Satu Solusi Mengatasi Selimut Polusi

  Perubahan iklim bukanlah topik yang asing bagi kita. Dampaknya sendiri sudah dirasakan oleh warga Jakarta di awal bulan Oktobe...