Wednesday, September 12, 2018

Kehidupan di Swedia dari kacamata Memel


Hallo teman-teman, kali ini saya mau berbagi pengalaman tentang hidup di Swedia. Swedia adalah salah satu negara Skandinavia, Skandinavia sendiri terkenal dengan negara yang mahal. Saya kira ini cuma mitos karena 1 Swedish Krona = Rp. 1630-1690, tidak semahal Singapore Dollar pikir saya waktu itu. Sesampainya saya disini barulah terasa semuanya serba mahal dari harga bahan makanan, transportasi, biaya ke dokter semuanya mahal bagi saya. Tapi walaupun mahal, bukan berarti saya tidak senang hidup disini, tidak ada macet, udara bersih, transportasi bagus, lingkungan bersih, kotanya tenang dan nyaman. Terdengar seperti kota impian bukan?

Biaya hidup di Swedia sebenarnya murah saja, apalagi kalau urban mama dan papa bisa masak. Harga sekali makan di restaurant cepat saji paling murah sekitar RP.200.000 an itupun cuma 2 burger 1 kentang dan minum. Walaupun ada paket hemat yang ada dihari-hari tertentu tetap saja buat saya pribadi yang mesti makan 3x sehari kalau makan diluar terus menerus biayanya sangatlah mahal. 
Orang Swedia sendiri ada kegiatan yang namanya FIKA alias ngopi cantik kalau di Indonesia. Sekali fika biasanya menghabiskan Rp.200.000 untuk kue dan minuman. Kalau mau fika setiap hari untuk pasangan suami istri yang hanya mengandalkan uang beasiswa sih lumayan mahal. Jadi untuk berhemat kami jarang ikut fika. Lumayan buat nabung untuk jalan-jalan.




Masak adalah hal remeh yang menyelamatkan keuangan menurut saya. Walaupun harga bahan makanan tidak semurah di Indonesia, makan di rumah lebih banyak menghemat dibandingkan makan di luar. Bahan makanan murah bisa dibeli di pasar lokal. Mendengar pasar pastinya terbayang pasar yang becek dan bau, disini pasarnya bersih sekali dan jangan takut kalau tidak bisa bahasanya. Orang Swedia semuanya bisa Bahasa Inggris kalaupun mau belajar bahasa Swedia sedikit ya angka-angka dalam bahasa Swedia 1-100 gampang kok. Kalau mau belanja di supermarket biasanya mereka ada kupon-kupon atau diskon setiap beberapa bulan. Kalau ada diskon begitu saya langsung borong semua yang bisa saya borong.




Transportasi umum di Swedia cukup bagus, ibu-ibu yang bawa stroller atau yang berkebutuhan khusus yang mesti menggunakan kursi roda bisa naik trasnsportasi umum. Biaya kartu bus di Swedia sini sebulannya sekitar 1 juta rupiah. Kalau pake uang beasiswa sih sebenernya cukup saja. Tapi saya sendiri memilih untuk jalan kaki saja. Selain lebih hemat, lebih sehat pula. Saya dulu pakai kartu bus ini cuma 2 bulan, karena setelah hafal jalan, semuanya bisa dikunjungi dengan jalan kaki. Males jalan kaki? Urban mama dan papa bisa beli sepeda. Di Swedia kalo bersepeda sudah ada jalurnya sendiri, udaranyapun enak sekali. Coba kalau dibandingkan beli sepeda sekali 1000 SEK = Rp. 1.700.000,- Kartu bus per bulan 550 SEK x 1700 x 11 bulan = Rp. 10.285.000,- Saya sih yakin sekali untuk tidak menggunakan kartu bus. Alasannya adalah saya jarang keluar jauh juga jadi sia-sia juga beli kartu bus  bulanan dan semua bisa ditempuh dengan jalan kaki atau bersepeda. Saya tetap punya kartu bus yang saya isi saldo, jadi kalau butuh banget saya tinggal pakai saja. 22.5 SEK = Rp.40.000 sekali jalan.






Yang menyenangkan disini adalah diskon, tiap musim ada diskonnya. Setelah saya lihat, diskon besar besaran ada di bulan Januari dan summer atau sekitar bulan Juli. Di bulan tersebut saya puas berbelanja baju merk ZAR*, CO* H&* karena kalau beruntung, ada hari dimana yang diskon 50% harganya di diskon setengahnya lagi. Saya yang awalnya biasa saja sama merk tersebut jadi gelap mata. hehehe...



Setelah sampai Swedia barulah terasa kalau Indonesia enak sekali kalau kita sedang sakit. Kalau kita sakit hal pertama yang bisa kita lakukan adalah menelpon Vårdcentralen, ini semacam Puskesmas Swedia. Setelah ditanya nomer ID barulah ditanya keluhan kita apa. Kemudian mereka yang memutuskan apakah kita bisa bertemu dokter atau tidak. Kalau kecelakaan atau hal yang darurat sekali bisa menelpon Emergency. Perlu urban mama dan papa ketahui kalau Sabtu-Minggu tidak ada dokter, jadi kalau sakit di hari sabtu atau minggu kalian bisa bertemu perawat yang menjaga. Dan lagi-lagi mereka yang memutuskan kita perlu bertemu dokternya atau cukup Istirahat.

Berbahagialah yang tinggalnya lebih dari 1 tahun, karena urban mama dan papa bisa mengurus personnummer atau semacam NPWP. Setelah dapat personnummer urban papa dan urban mama bisa membuat ID kord atau KTP. Kalau kedua kartu sakti ini sudah dipegang maka urban mama atau papa bisa ikut SFI (Swedish for Foreign) sekolah bahasa Swedia gratis. Atau mencari pekerjaan part-time, disini kerja jadi cleaning service di hotel dibayar 125 SEK per jam (lebih kurang 200.000).  Dan kalau urban mama dan urban papa sakit, kalau punya personummer biayanya jauh lebih murah.

Oh iya, kalau mau membuka rekening bank dan menyewa apartemen urban mama dan papa mesti punya personummer dan ID kord ini. Kalau tidak ada biasanya kita tidak bisa membuka rekening maupun menyewa apartemen. Apartemen di kota Malmo tempat saya tinggal, untuk 2 kamar 1 kamar mandi dan dapur setahu saya sewanya 5500 SEK per bulan (lebih kurang 10 juta). Yang ditengah kota biasanya lebih mahal lagi.

Kalau tidak bisa membuat personnummer seperti saya jangan bersedih hati, kalau ingin belajar bahasa Swedia bisa datang ke Perpustakaan Kota. Tiap bulannya mereka mengadakan kelompok belajar bahasa Swedia gratis. Kalau mau kita bisa kerja jadi relawan, atau kalau di kota besar seperti Stockholm kita bisa mengajar bahasa Indonesia untuk anak-anak keturunan Indonesia di Swedia atau ya bisa jalan-jalan keliling kota, atau piknik sambil membaca buku di taman kalau cuacanya cerah.








Saya beruntung karena cukup banyak orang Indonesia yang tinggal disini, beberapa ada aktif yang mengadakan kegiatan latihan tari untuk mempromosikan budaya Indonesia. Kalau ada festival yang diadakan di kota-kota di Swedia biasanya mereka ikut berpartisipasi. Kalau kangen Indonesia saya tinggal ikutan ngumpul sama ibu-ibu disini.



Sekian cerita saya mengenai kehidupan perantauan di Swedia, semoga menghibur. #halah

No comments:

Post a Comment

Hutan Sebagai Salah Satu Solusi Mengatasi Selimut Polusi

  Perubahan iklim bukanlah topik yang asing bagi kita. Dampaknya sendiri sudah dirasakan oleh warga Jakarta di awal bulan Oktobe...