Kepada Saudari Melisa mohon setoran udah mau 6 minggu!
Oh baiklah..
Saat ini keadaan baru H+4 pasca melahirkan tapi demi kalian (kalian siapa?) saya menulis kembali.
Seperti yang kita ketahui, pandemi Covid-19 mulai hits di bulan Maret 2020. Saya kira pandemi ini akan cepat berlalu. Ternyata oh ternyata.. sampai lahiranpun masih ada.
Banyak hal yang terjadi selama bulan Maret 2020-Agustus 2020 ini, salah satu yang membekas sekali adalah saya dicap sebagai orang yang parnoan karena terlalu patuh protokol. Salah saya dimana ya? Saya kan cuma mau melindungi diri sendiri. Tapi hikmahnya adalah saya bisa memfilter siapa saja yang tingkat pemahaman dan literasinya tinggi.
Kembali ke judul blog ini, Covid-19 ini lumayan membuat takut saya yang sedang mengandung ini karena penelitian terakhir menyatakan bahwa ibu bisa menularkan Covid-19 ke janin. Ya Allah, giliran gw bisa hamil eh malah ada pandemi. Sedikit bocoran, ini kehamilan saya ke-5, saya mengalami 4 kali keguguran soalnya. Hikmah dari adanya Covid-19 ini adalah saya jadi ga kemana-mana deh. Lebih hemat uang dan banyak istirahat di rumah deh. Suami saya bilang, kalo ga ada Covid-19 ini, mungkin saya masih bekerja dan pecicilan kesana kemari yang mengakibatkan saya keguguran lagi mungkin.
Untuk check-up bayi selama Covid-19 bisa via watsapp kalo tidak ada yang emergency. Palingan disuruh datang di bulan-bulan tertentu untuk USG, cek darah, vaksin tetanus dan Swab. Saya biasanya datang 2 minggu sekali karena emang takut bayinya kenapa-kenapa. Selama Covid-19 ini lumayan menghemat juga karena disuruh datang 2 bulan sekali. Enaknya lagi Rumah Sakit juga lebih sepi dan semua orang memakai masker, saya sendiri merasa lebih safe aja. Dukanya palingan ada pengeluaran tambahan untuk beli masker dan desinfectant karena semua orang panic buying dan ada oknum yang menimbun masker yang membuat harga masker jadi selangit.
Mendekati ke hari lahiran banyak yang mengira kalau semua dokter di masa pandemi ini akan menyuruh tindakan Sectio Caersaria (SC) untuk mengurangi paparan tidak ada yang boleh lahiran secara per vaginam (normal). Padahal menurut pengalaman pribadi saya sih itu semua tergantung dokternya karena dokter saya sendiri sampai titik due date penghabisan (halah) masih menyuruh saya untuk lahiran per vaginam.
Mamijen juga banyak yang suudzhon kalau rumah sakit "aji mumpung" menyuruh pasien melakukan screening Covid-19 berupa Rapid Test atau Swab, Roentgen paru dan konsultasi spesialis paru untuk pasien yang akan melahirkan dan Rapid Test untuk pendamping. Saya sendiri sih termasuk aliran yang tidak keberatan melakukan itu semua karena untuk melindungi petugas tenaga kesehatan yang bekerja. Hati saya selalu hancur setiap melihat IDI berduka. Itu yang meninggal anak/suami/istri/ayah/ibu dari keluarga orang loh. Saya sih ga pernah tega keluar rumah kecuali darurat untuk kontrol ke Rumah sakit. Tenaga kesehatan abis kalian mau berobat kemana? Ayolah lindungi sesama (hmm..sepertinya malah jadi curcol).
Screening Test Covid untuk pasien yang akan dirawat inap lagi-lagi tergantung kebijakan rumah sakit dan dokter masing-masing. Baiknya sih ditest dan setelah ditest tetap patuhi protokol ya, karena hasil Covid-19 yang keluar adalah hasil pada saat kalian ditest. Kalau setelahnya kalian kumpul-kumpul ya hasilnya ga valid. Di whatsapp grup ibu hamil lagi-lagi banyak yang keberatan dengan masalah ini karena merepotkan dan ada yang berpendapat cuma akal-akalan rumah sakit. Ya saran saya kalo ga mau repot ya rapidnya disiapkan dari awal. Jangan pas mules baru mau ke rumah sakit 😅
Selama menunggu hasil Swab saya jadi super stress karena kalau hasilnya positif saya mesti ke rumah sakit rujukan dan dipisah sama bayi sampai hasil Swabnya negatif. Seperti yang kita ketahui rumah sakit rujukan sendiri banyak yang penuh. Antriannya panjang. Alhamdulillah hasilnya negatif jadi saya tidak perlu repot cari rumah sakit lain.
Jadi keuntungan (suka) dari melahirkan dimasa pandemi ini
1. Hemat pengeluaran untuk berobat karena tidak sering-sering ke rumah sakit kecuali darurat
2. Tidak ada kunjungan tidak penting dari kerabat yang berpotensi menularkan penyakit. Pandemi maupun tidak mengunjungi newborn itu ada aturannya. Tidak boleh sembarang pegang
3. Rumah sakit lebih sepi dan steril karena semua pasien dan staff wajib menggunakan masker. Waktu tunggu lebih singkat jadi lumayan membantu
4. Sebagai introvert saya senang sih ke mall yang cuma supermarketnya yang buka. Less contact dengan orang lain hehehehe..
Dukanya
1. Tidak ada kunjungan dari sahabat terdekat, ya kadonya tetep sampai sih. 😅
2. Ektstra pengeluaran untuk tes screening Covid-19 membeli APD, desinfectan dan vitamin
3. Masih banyak orang yang tak patuh protokol jadi selama antri kasir atau antri lainnya masih banyak yang mepet-mepet.
4. Karena super takut kena Covid-19 saya agak lelah kalo menerima paket mesti disemprot steril dulu. Selain bikin iritasi baunya juga bikin pusing.
5. Sanitasi di rumah sakit super ribet, tapi karena demi keamanan bersama. Mari dituruti.
6. Karena Covid semua kamar VIP Kelas 1 atau yang satu kamar 1 orang penuh semua. Berbekal bismillah karena semua pasien rawat inap mesti di swab saya menginap di kamar yang isinya 2 pasien. Untungnya pengawalan ketat jadi pendamping cuma boleh 1 orang dan mesti rapid di Rumah sakit yang sama.
7. TEST SWAB SAKIT BANGET YA ALLAH. Bukan nyeri sih, lebih ke tidak nyaman. Untungnya negatif. Kalo mesti ditest berkali-kali sampai negatif udahla mahal, sakit pula.
Itu aja sih kesan saya selama hamil dan melahirkan, semoga pandemi segera berakhir. Semoga yang lagu hamil dan akan melahirkan mendapatkan gambaran tentang suasana rumah sakit di saat pandemi.Stay safe.



Halo mba, selamat atas kelahiran bayinya dengan sehat, selamat tanpa kurang suatu apapun. Baca blog ini rasa penasaran terjawab, dari kemarin2 aku kepikiran aja gimana yang lagi hamil atau melahirkan ya di masa pandemi. Hehe..
ReplyDeleteSyukurlah, aman terkendali ya, semoga mba dan si kecil aman dan selalu sehat yaa aamiinn
Amiinn.. terima kasih doanya Nurul
Deletesalam kenal ya... terima kasih sudah membaca..